27 Oktober 2011

Juara Group Outbound 2011


Untuk menjadi yang terbaik dalam pekerjaan, seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknik dan fisik.

Ada hal lain yang berpengaruh membentuk pekerja agar berprestasi lebih baik, yaitu mental juara, yang salah satunya bisa diasah lewat pelatihan ”soft skills” seperti ”outbound”.

Lewat cara itu, seorang bisa dilatih. Mental mereka diuji melalui sebuah permainan sederhana namun melibatkan emosi, kesabaran, ketangguhan, dan keuletan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

26 Oktober 2011

Berkunjung ke Serambi Makkah


Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di tanggal 29 September, saya berkesempatan mengunjungi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam rangkaian tugas kantor.


Selama tiga hari di Banda Aceh, saya banyak mendapat pengetahuan/info tentang provinsi yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah dan warganya. Banyak cerita tentang bencana tsunami yang memporak porandakan NAD pada tahun 2004 lalu.


Hari pertama saya gunakan untuk keliling kabupaten Banda aceh dan Aceh Besar, sekalian meninjau lokasi yang akan saya datangi untuk tugas kantor. Mendengar cerita kalau di Aceh terkenal dengan kopinya, saya pun mencoba mampir ke salah satu warung yang lumayan rameh untuk mencicipinya.


Hari berikutnya, bertepatan pada hari jum’at saya berkunjung ke masjid bersejarah dan terkenal di Banda Aceh, apalagi kalau bukan Masjid Agung Baiturrahman, sekalian saya melaksanakan sholat Jum’at di sana. Terasa khusu’ ibadah disana karena udara begitu sejuk dan segar, apalagi mendengar cerita tentang keagungan masjid ini yang merupakan satu-satunya bangunan yang selamat dari tragedi tsunami.


Di waktu lain, saya juga berkesempatan mengunjungi Museum Tsunami, Pintu Khop Banda Aceh, dan situs Kapal PLTD Apung 1, yang terdampar di Kampung Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.


Nah, saya akan bercerita tentang kunjungan saya ke situs Kapal PLTD Apung 1 itu, yang menjadi obyek wisata resmi di Banda Aceh. Bencana tsunami yang terjadi pada 24 Desember 2004 ini, memang dashyat kekuatannya.


Bayangkan saja, tongkang berbobot mati 2.600 ton dengan panjang 63 meter serta luas 1.600 meter persegi terseret sejauh lima kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue hingga terdampar di Kampung Punge Blang Cut. Selain kapal PLTD Apung 1 ini, terdampar juga sebuah kapal kecil, yang menerjang rumah warga.


Menurut warga sekitar yang menjadi perawat situs kapal tersebut, warga baru tahu kalau kapal yang memasok listrik bagi masyarakat Kotamadya Aceh dan Ulee Lheue terdampar setelah musibah berakhir.

Dari puluhan awak kapal yang ada di dalam kapal, hanya satu orang yang selamat, itu pun karena ia tertidur di tempat yang paling atas dari Kapal PLTD Apung 1.


Saya lalu mencoba menaiki kapal tersebut. Di setiap lantai, terpancang tiang bendera Merah Putih. Dari puncak kapal, saya bisa melihat Taman Edukasi Tsunami dan galeri foto tsunami, yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi bangkai kapal.


Selain itu, kita bisa menikmati indahnya Pantai Ulee Lheue. Jangan heran, banyak wisatawan baik lokal maupun luar negeri yang datang ke situs tersebut memanfaatkan dengan berfoto-foto.


Saat ini, situs kapal tersebut masih dikelola oleh warga setempat, padahal tsunami sudah berlalu tujuh tahun. Alasan klise, pemerintah daerah tidak punya dana untuk mengelolanya.


Untuk kebutuhan perawatan situs tersebut, warga setempat meletakkan kotak bantuan, yang diharapkan diisi oleh pengunjung secara sukarela. Semoga saja rencana pembangunan wisata tsunami Kapal Apung, yang kabarnya akan didukung dana dari pemerintah dan pihak asing, tidak sekedar kabar burung. ***

Outbound: Pendidikan Inovatif Kreasi Kurt Hahn


Outward Bound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.

Apakah karena konsep ini sangat mudah beradaptasi dan dapat diterapkan pada dunia edukasi secara masal atau karena pemikiran dan filosofi dari konsep metode semacam outbound ini adalah abadi dan memiliki daya tarik universal? atau mungkin kedua faktor tersebutlah yang membuat metode ini menjadi populer dan terus berkembang.

Yang jelas sang penemu metode outward bound atau lebih dikenal outbound training , Kurt Hahn telah meninggal pada tahun 1974 tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”

Filsafat pendidikan Hahn adalah perpaduan dari apa yang dianggap sebagai ide terbaik yang diambil dari berbagai sumber. Menurutnya, pendidikan adalah seperti pengobatan, metode pengobatan yang ada pada saat ini adalah hasil penemuan dan penyempurnaan dari metode metode terdahulu, jika anda datang ke seorang ahli bedah umum dan meminta untuk membedah usus anda dengan cara yang terbaik dan benar, pasti dokter ahli bedah umum tersebut akan menyarankan anda untuk datang ke ahli bedah yang lebih ahli mengenai usus.

Jadi menurut Hahn, tidak ada yang istimewa dan baru dari metode “temuannya”, karena menurut Hahn, ia hanyalah mengumpulkan, merumuskan kemudian mengemasnya dengan cara yang dianggapnya paling sesuai dengan pengalaman atau proses hidupnya pada masa itu. Beliau menganggap, lebih baik meminjam sebuah ide atau metode yang sudah teruji dan terbukti ketimbang harus mencari dan berkesperimen dengan metode baru.

unci keberhasilan Hahn adalah, ia berhasil merangkum, mengambil dan menggabungkan ide dan metode terbaik dari tiap pakar pendidikan di dunia, menjadi suatu metode edukasi yang sangat unik.

Hahn memiliki keyakinan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi dan kekuatan spiritual serta kemampuan untuk membuat penilaian yang benar mengenai nilai hidup dan moral.

Dalam perkembangan hidupnya, seseorang itu kehilangan kekuatan spiritual ini dan kemampuan untuk membuat penilaian moral karena, apa yang Hahn sebut, diseased society dan the impulses of adolescence.

Oleh karena itu, Hahn terobsesi oleh dekadensi moral atau penyakit sosial yang dia amati di masyarakat, dan sangat tergerak untuk mencari solusinya, beberapa “penyakit” tersebut misalnya seperti :

· Penurunan tingkat kebugaran karena adanya sarana transportasi modern, pada saat itu lokomotif atau mesin

· Penurunan memori dan imajinasi karena bingung, waswas, stress, gelisah akibat dampak dari modernisasi

· Penurunan tingkat keterampilan dan perhatian karena melemahnya tradisi dan budaya yang positif serta keahlian

· Penurunan disiplin diri karena ketergantungan pada obat-obat perangsang dan obat penenang

· Penurunan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama karena masing masing sibuk dan egois dengan gaya hidup modernnya

Sebagai bagian dari perhatiannya terhadap kekuatan dan kemampuan fisik adalah, ia percaya bahwa setiap manusia memiliki bakat kemampuan fisik, baik bakat fisik alamiah maupun ketidakmampuan fisik alamiah, misalnya seperti cacat fisik.

Keduanya memiliki kelebihan dan memberikan kesempatan: satu untuk mengembangkan kekuatan dan yang lainnya untuk mengatasi kelemahan. Inilah yang menjadi prinsip atau pegangan Hahn’s berikutnya yaitu,

“Ada banyak kelebihan pada diri anda daripada yang anda pikirkan dan bayangkan.”

Tujuan Hahn adalah untuk menyediakan wahana ideal untuk mengaktifkan kesadaran dan potensi kekuatan tersebut, sehingga setiap orang dapat menemukan kesempurnaan jati diri manusianya dan salah satu wahana yang ia buat adalah Outward Bound atau lebih populer di Indonesia dengan istilah Outbound Training.

*dirangkum dari berbagai sumber

Yuk Kita Atasi Pengangguran dengan Life Skill


Pertumbuhan ekonomi sangat mempengaruhi angka pengangguran. Statemen itu terbukti. Menurut Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Bappenas, Bambang Priambodo, setiap satu persen pertumbuhan PDB, hanya mampu menyerap 300-400 ribu orang tenaga kerja. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2007 lalu hanya 6,2 persen saja. Itu artinya, untuk tahun 2008 ini, hanya 1,8-2 juta orang pengangguran saja yang bisa mendapatkan pekerjaan. Bisa dihitung, kalau Indonesia bertekad menuntaskan masalah pengangguran, maka pertumbuhan ekonomi harus lima kali lipat. Sebab, jumlah pengangguran terbuka kita sekitar 10,10 juta orang.

Melihat kenyataan ini, semestinya lembaga-lembaga pendidikan, punya tanggung jawab moral terhadap lulusannya, jangan sampai menambah deretan jumlah pengangguran yang sudah ada. Jalannya tentu saja membangun mentalitas entrepreneur dan kecakapan hidup (life skill), tamat dari studi, bukan mencari pekerjaan, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) pendidikan dibagi ke dalam tiga katagori: informal adalah pendidikan di rumah tangga; formal merupakan pendidikan yang berjenjang dari SD hingga perguruan tinggi; sedangkan nonformal adalah pendidikan luar sekolah seperti life skill. Bangsa yang terdiri dari lebih 220 juta jiwa ini sesungguhnya merupakan komunitas yang begitu majemuk (heterogen) dengan tingkat kebutuhan yang majemuk pula.

Artinya, tidak semua orang di Indonesia ini bercita-cita ataupun mampu meraih cita-cita sebagai sarjana: S1, S2, S3 dan lainnya. Nah, memaksakan pemikiran kepada polarisme merupakan sesuatu yang sejatinya perbuatan sangat tidak mendidik dan bertentangan dengan konsep pendidikan yang membebaskan.

Justru itu, program life skill penting untuk dimasyarakatkan. Sebut saja bidang komputer, jahit-menjahit, montir, bahasa Inggris serta lainnya, sangat besar manfaatnya buat kehidupan. Mentalitas entrepreneur saja tanpa dibarengi kecakapan hidup, boleh jadi akan hampa. Kecakapan hidup merupakan modal dasar yang tentu saja akan menemukan kesejatiannya jika dikombinasikan dengan entrepreneurialship.

Apalagi keahlian-keahlian seperti komputer dipadu dengan kemampuan berbahasa asing, seperti bahasa Inggris maka peluang kerja--membuka lapangan pekerjaan maupun mencari kerja--akan semakin terbuka lebar. Saat ini -sesuai dengan tuntutan globalisasi-mengandalkan ijazah saja (bahkan S1) tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan kecakapan hidup (life skill).

Ini menjadi penting, karena jumlah angkatan kerja yang menganggur cukup krusial untuk jadi perhatian serius. Angkatan kerja yang menganggur di Indonesia melampaui standar ILO (International Labour Organization), 20 persen dari jumlah penduduk. Sementara, angka pengangguran di Indonesia sudah melampaui 28 persen. Ini berbahaya! Dengan upaya-upaya pelatihan life skill, niscaya angkatan kerja kita punya keterampilan yang siap pakai dan profesional, sehingga tidak menganggur atau menjadi tenaga kerja murahan. Jadi, jika ada program yang digulirkan pemerintah bekerjasama dengan lembaga swasta atau LSM maupun NGO, seharusnyalah peserta menghargai niat baik pemerintah ini dengan belajar bersungguh-sungguh.

Manakala pendidikan telah dapat berfungsi sebagai pembebas dan proses pembelajaran merupakan hal yang menggembirakan, niscaya pendidikan pun dapat berfungsi sebagai lembaga perbaikan nasib. Untuk dapat menjadikan pendidikan sebagai lembaga perbaikan nasib, prestasi yang dicapai siswa/mahasiswa seyogianya secara signifikan berhubungan dengan kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian atau prestasinya.

18 Oktober 2011

PUISI NEGERI PARA BEDEBAH


oleh: Adhie M Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan ! (rz)

10 Februari 2011

Dalam kegalauan yang sangat


Saya tak pernah membayangkan kalau saya akhirnya ada di titik ini. Ketika saya lebih sering berhenti dan melihat sekeliling, membandingkan, dan menyesali banyak hal.

Berjalan-jalan dari satu tulisan ke tulisan lain di laman ini membuat saya diliputi keheranan yang sangat. Dari mana energi itu dulu berasal. Saya begitu menikmati semuanya. Menulis dengan rutin, berjejaring, dan mensyukuri banyak hal.

Malam ini saya merasa seperti orang yang kalah, dilanda gundah yang sangat. Cemas atas banyak hal yang belum nyata. Saya melihat harapan telah pupus dan menjalar perlahan-lahan.

Pencapaian, eksistensi, penghargaan, dan waktu yang terbuang…?! Kepala saya penuh, ketika saya kehilangan saya …

Dan saya akan menemukan saya kembali dalam wajah yang baru

Persahabatan - Kahlil Gibran


Dan jika berkata,
berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.
Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri,
pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya;
karena tanpa ungkapan kata,
dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita;
Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya,
mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan.
Karena kasih yang masih menyisakan pamrih,
di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan:
hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu,
biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes